Langsung ke konten utama

K - 3 (Ke-Imanan, Ke-Amanan dan Ke-Sejahteraan)




Bila kita amati perbincangan orang, kita temukan mereka menetapkan ukuran sukses bangsa/negara itu bermacam-macam, sehingga mereka kadang menentukan suatu penilaian yang juga beragam. Baik ukuran sukses bangsa/negara jangka panjang ataupun jangka pendek. Kita bisa melihat bagaimana orang menetapkan ukuran kesuksesan pada suatu kepemimpinannya. Ada yang menetapkan kunci penilaiannya pada sisi finansial yang melimpah ruah, sejumlah asset yang tak terhitung lagi, banyaknya supporter yang simpati dan memberikan dukungan. Atau keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan penilaian nabgsa/negara itu mereka menetapkan fokus sasaran aktivitasnya dan berupaya semaksimal mungkin untuk dapat meraihnya. Tatkala mampu mencapainya dan menikmati kepuasan yang tidak terperi.

Ukuran kesuksesan bangsa/negara ini hanya sebagai alat untuk mengukur keberhasilan melakukan sesuatu. Agar apa yang akan dan sedang di lakukan dapat dievaluasi dengan seksama dan terukur. Baik kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha perniagaan.

Sosok kepemimpinan baik Negara, Propinsi, Kabupaten dan Kota, merupakan sosok manusia syukur yang ditampilkan oleh Sang Pencipta, sebagaimana dalam Kitab Suci dengan sangat mencolok adalah Nabi Sulaiman as. Nabi yang satu ini diberi kekuasaan dan kekayaan oleh Sang Pencipta yang sangat besar. Kekuasaannya dapat menundukkan manusia, binatang, jin bahkan angin. Kekuasaannya tiada terhitung banyaknya.

Nabi Sulaiman berhasil memindah singgasana itu dari Saba ke Palestina. Nanun Beliau tak menyombongkan diri, misalnya mengatakan, “Kalau hanya pekerjaan begitu, anak buahku saja yang melakukannya. Aku tidak perlu turun tangan.” Beliau justru berkata, “Ini adalah karunia dari Tuhanku untuk menguji aku. Apakah aku dapat bersukur atau kufur?” Lalu ia berkata lagi, seperti terkisah dalam Kitab Suci, “Dan barang siapa yang bersukur maka sesungguhnya dia bersukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml: 40).

Bila dicermati dengan nalar yang bijak pada setiap pemimpin Bangsa atau Negara siapa pun DIA menginginkan Perdamaian dan Persatuan, itu semua tidak terlepas dari pijakan para Pemimpin yang berjiwa bijaksana, sebagaimana Pondasi K-3 dalam gambaran Kunci # K-3 # menurut Penulis; (Ke-Imanan, Ke-Amanan dan Ke-Sejahteraan). 

 Ke-Imanan

Tentunya ukuran kesuksesan dalam pandangan takaran kadar PERSATUAN tidak seperti yang dimiliki kebanyakan orang. Kesuksesan untuk kadar PERSATUAN dapat kita perhatikan:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”. (QS. An Nur: 55)

Tegaknya agama, dapat mengatasi Hoaks, tidak ada lagi fitnah di muka bumi. Agama berdiri tegar tanpa ada satu pun yang menentangnya. Keimanan melahirkan keadilan yang tegak merupakan kebutuhan asasi bagi manusia karena Sang Pencipta, sudah memformat agama ini bagi manusia. Kita tahu bahwa Keimanan memang jawaban dan solusi atas problematika manusia.

Tegaknya keimanan dapat menghilangnya rasa takut karena telah tegaknya Keadilan, keadaan menjadi aman sentosa. Tidak ada kerawanan yang menakutkan. Sehingga setiap orang yang beriman tidak cemas dan khawatir akan mendapatkan gangguan, apa lagi gangguan dalam menjalankan keimana. Tegaknya keimanan, menghilangkan rasa curiga pada setiap pemeluk Agama dari aman tanpa rasa takut.

Ke-Amanan

Konsep pertama, yang akan hilang pada setiap bangsa tak beragama adalah konsep persatuan pada keluarga bangsa. Nilai-nilai yang menjaga keutuhan keluarga bangsa seperti kesetiaan, kepatuhan, kasih-sayang dan rasa hormat akan ditinggalkan sama sekali. Dapat diingat bahwa keluarga bangsa merupakan pondasi dari sistem kemasyarakatan. Jika tata nilai keluarga bangsa runtuh, maka masyarakat pun akan runtuh. Bahkan bangsa dan negara pun tidak akan ada lagi, karena seluruh nilai moral yang menyokongnya telah musnah.

Konsep kedua, tak akan ada lagi rasa hormat dan kasih-sayang terhadap orang lain. Ini mengakibatkan anarki sosial. Yang kaya membenci yang miskin, yang miskin membenci yang kaya. Angkara murka tumbuh pada mereka yang merasa dirintangi, hidup susah atau miskin. Atau menimbulkan agresi terhadap bangsa lain. Karyawan bersikap agresif kepada atasannya. Demikian pula atasan kepada bawahannya. Para bapak berpaling dari anaknya, dan anak berpaling dari bapaknya. Sebab dari pertumpahanan darah yang terus-menerus dan “berita-berita kriminalitas” di surat kabar adalah ketiadaan agama. Setiap hari dapat kita baca tentang orang-orang yang saling bunuh karena alasan yang sangat sepele.

Konsep ketiga, orang yang mengetahui bahwa mereka akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, tidak akan melakukan pembunuhan. Mereka tahu bahwa Sang Pencipta melarang manusia melakukan kejahatan. Mereka selalu menghindari murka Sang Pencipta karena rasa takutnya kepadaNya.

Konsep keempat, penegakan keadilan yang berkeadilan pada tataran hukum yang berkeadilan, tajam pada kedua sisi belati, tanpa terkecuali siapapun DIA.

Ke-Sejahteraan

Apabila di cernati nilai-nilai bijak manusia, dapat temukan dan meraih kesuksesan dari petunjuk tersebut;

Ø  Kepemimpinan yang mengayomi seluruh kalangan untuk mendapatkan hak-haknya. Tidak ada rakyat yang dipimpinnya yang terzhalimi. Kepemimpinan yang memberikan keteladanan, keadilan, kenyamanan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Pemimpin yang seperti ini tidak akan dapat dilakukan kecuali oleh pemimpin yang beriman dan beramal shalih. Bukan pemimpin yang dusta, zhalim, curang, penipu dan menyimpang. Pemimpin tipe seperti itu hanya melahirkan kesengsaraan bagi rakyatnya. Rakyat melaknat pemimpinnya dan pemimpin menyumpahi rakyatnya. Pemimpin yang baik sebagaimana para pemimpin yang dapat menempatkan adil, amanah dan jujur.

Ø  Kedudukan yang eksis dan tidak memberikan peluang kecurangan, kedustaan atau penyimpangan. Kedudukan yang teduh dan tenang sehingga dapat merealisasikan misi kesejahteraan yang berkeadilan, yakni rahmatan lil alamin bagi semua kalangan. Keadaan yang demikian memberikan suasana nyaman bagi semua pihak, seperti orang-orang Babylonia yang akan ditinggal kaum muslimin setelah sekian lama mereka hidup bersama. Mereka datangi Khalid bin Walid agar memperpanjang waktu tinggalnya di sana. 

 Tentu kita tahu bahwa kesejahteraan itu tidak akan muncul secara tiba-tiba. Kesejahteraan merupakan proses panjang yang di lalui dan akhirnya akan berpulang pada kerja untuk mewujudkannya. Kesejahteraan itu tidak datang begitu saja, melainkan datangnya karena kesungguhan dan kekuatan jiwa. untuk kesuksesan serta kesejahteraan berjuang untuk mewujudkan cita-citanya dan membela keimanannya

Adil, amanah dan kejujuran merupakan implementasi dari nilai-nilai luhur Ke-Imanan, Ke-Amana dan Ke-Sejahteraan, Bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut mencirikan bangsa yang MAKMUR. 

 

Toboleu, 8 Juni 2020


Komentar

  1. Semakin tajam analisis tulisan tuan Dr.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mksh..., semua itu karena mengikuti petunjuk dari Senior...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELAMAT DATANG

Pesta Rakyat Anak Negeri Pilkada 2020

Pelaksanaan Pilkada secara langsung dipilih oleh rakyat telah dimulai pada tahun 2005. Melalui UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah, mekanisme pemilihan Kepala Daerah oleh DPRD yang dianut UU No.22 Tahun 1999 diubah secara drastis menjadi pemilihan secara langsung oleh rakyat. Sepuluh tahun kemudian yakni pada 2015, penyelenggaraan Pilkada langsung secara serentak pertama kalinya berlangsung di 269 wilayah yang mencakup 9 Provinsi, 224 Kab dan 36 Kota di Indonesia. Umat (rakyat mutiara), gunakan hak-hak politikmu untuk menentukan pilihan di pesta rakyat nanti, jangan biarkan hak-hak politikmu dikebiri dan digiring pada partai politk yang berkepentingan untuk menggemukkan kantong mereka. Rakyat mutiara, cerdaslah sebagai pemilih dalam menentukan pilihan, rakyat mutiara yang mempunyai lahan negeri yang dapat menentukan di musim hujan maupun di musim kemarau, sudah mempunyai koleksi bibit yang tepat untuk ditanami di musim tersebut, pilihlah bibit unggul yang tepat untuk d...

MEMILAH FAHAM PARLENTE

  Pada hakekatnya Pancasila dibutuhkan sebagai pedoman bernegara di tengah keragaman bangsa Indonesia. Pancasila menjadi pemersatu diversitas bangsa yang oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) menyebutnya kalimatun sawá ( common platform ) bagi keindonesiaa. Pancasila adalah konsensus nasional yang paling maksimal setelah para the founding fathers dari kalangan Islam “terpaksa” menerima penghapusan tujuh kata di dalam Mukadimah Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Jadi pengorbanan perasaan umat Islam ini menjadi bagian dari ingatan kesakitan (memoria passionis) umat Islam yang tidak boleh diabaikan oleh kekuatan-kekuatan sekuler. Setelah penghapusan tujuan kata itu, untuk mendamaikan “kekecewaan” umat Islam itu,   para ulama menafsirkan sila pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah Tawhîd yang tak lain adalah keyakinan fundamental umat Islam dan hal itu bisa diterima. Namun, saat ini sila utama Pancsila itu sedang menghadapi turbulensi politik. Padahal semua orang tahu bahwa...